Catatan #1



 Biasanya, liburan sekolah kuhabiskan dengan bermain handphone dan menonton TV, karena pikirku, liburan sekolah ada untuk memberi murid dan guru kesempatan untuk beristirahat dari rutinitas yang terkadang membuat stres. Kukira liburan kali ini akan sama seperti tahun-tahun kemarin, di rumah saja. Tapi, beberapa hari sebelum liburan akhir tahun, pamanku menghubungiku dan mengajakku naik gunung. Orang tuaku setuju aku pergi bersama adik dari ibuku itu. Ibuku juga menyuruhku membawa serta adikku.

Libur pun tiba, aku dan adikku pergi ke kampung Ibu di Ngawi. Setelah menghabiskan sehari untuk membeli perbekalan dan istirahat, keesokan harinya aku dan adikku berangkat menuju gunung yang dimaksud, ditemani dua orang sepupuku dan teman pamanku yang berprofesi sebagai porter.

Kami sampai di basecamp beberapa saat sebelum adzan Dzuhur berkumandang. Kami memutuskan untuk sholat sejenak, lalu mulai mendaki. Selama mendaki, rombongan kami beberapa kali berpapasan dengan rombongan pendaki lain. Tiap kali berpapasan, pasti ada saja yang menyapa, entah itu dari rombongan kami atau mereka. Kadang aku berharap sikap ramah seperti ini juga bisa ditemukan di kota-kota besar seperti Jakarta, tidak hanya di tempat—tempat seperti ini.

Di area kemah, kabut tebal menutupi pemandangan dan memotong jarak pandang kami. Hujan tiba-tiba mengguyur sebelum kami sempat mendirikan tenda, jadi kami berteduh di warung dekat sana sambil meminum teh hangat manis. Setelah kurang lebih 40 menit, hujan mereda. Kami cepat-cepat mendirikan tenda dan meletakkan barang-barang bawaan kami di dalam.

Paman mengajak kami melihat Puncak Andong yang terletak tak jauh dari area berkemah. Setelah beberapa foto, adikku mengajak kami menyusuri jalan yang mengarah lebih jauh, yang ternyata adalah jalan menuju Puncak Alap-Alap. Jalan itu hanya selebar pundak orang dewasa, dipenuhi tanah licin dan lumayan curam, melewati dua kali tanjakan. Jika kalian melihat ke kiri dan kanan, kalian akan melihat tebing terjal dan lautan kabut yang menebal seiring mendekatnya kami ke puncak, meskipun Puncak Alap-Alap tidak setinggi Puncak Andong. Di sana, kami disambut sebuah tugu bertuliskan Puncak Alap-Alap di sebuah lapangan kecil dan hamparan bunga edelweiss di sekitar lapangan itu.




Di perjalanan pulang, gerimis mulai turun, dan hujan deras turun sesampainya kami di tenda. Saking deras dan lamanya, seisi tendaku tertidur dan baru bangun sekitar waktu Maghrib. Malam itu udara sangat dingin, meskipun aku tidur di dalam sleeping bag tebal. Begitupun saat aku bangun di pagi harinya, kabut sama tebalnya dengan malam sebelumnya, meskipun matahari sudah menunjukkan wajahnya.  

 

Ternyata, pamanku tidak hanya mengajakku mendaki satu gunung, tapi dua. Sebelum kami mendaki gunung selanjutnya, kami beristirahat di rumah salah seorang sepupuku dan melanjutkan perjalanan keesokan harinya. Gunung yang dimaksud pamanku adalah Bukit Mongkrang, sebuah bukit di dekat Gunung Lawu yang kerap kali disebut sebagai gunung oleh warga lokalnya




. Kenapa disebut gunung padahal sebenarnya bukit? Aku juga tak tahu.

Kami mulai mendaki sekitar jam 10 pagi, ketika matahari mulai terik. Udara dingin dan cuaca yang terik kurasakan ketika mendaki Gunung Mongkrang. Di pertengahan jalur menuju puncak, jalan terbelah tiga. Jalur pertama menuju puncak, sementara jalur kedua dan ketiga menuju titik tertinggi kedua dan ketiga. Mempertimbangkan waktu yang sudah menjelang Dzuhur dan kami yang harus cepat pulang, kami memutuskan untuk tidak pergi ke puncak, hanya ke Candi 1 dan 2, titik kedua dan ketiga tertinggi. Setelah sholat dan makan siang di bawah, kami pulang dan sampai di rumah pada sore hari.


Meskipun pendakian kali ini sangat melelahkan, aku tetap sangat senang karena dapat mengistirahatkan benak dari tugas sekolah, menikmati alam, dan berolahraga. Selain itu, aku juga  memperbanyak kenalan dengan mengobrol bersama sesama pendaki serta warga lokal. Singkat cerita, pengalaman ini tidak akan pernah kulupakan


source: youtube

Comments

Popular posts from this blog

Tugas 4 INFTK